Wddcool's Blog

dilema cinta | Nov 11th 2009

DILEMA CINTA

Suara ayam jantan yang berkokok seketika itu membangunkan tidur lelap Tio.
Dia baru saja sadar bahwa hari ini dia ada ulangan Matematika. Waktu menunjukan pukul 07:00
Dan Tio pun harus bergegas supaya tidak terlambat mengikuti ulangan matematika.
Seketika itu pula dia langsung berangkat, tanpa mandi terlebih dahulu hanya segayung air yang digunakan untuk membasuh muka dan juga sepercik minyak wangi yang disemprotkan ke seluruh tubyhnya. Tio segera keluar dari kamarnya dengan tergesa – gesa, tiba – tiba terdengar suara memanggil Tio

”Tio…..!!! sarapan dulu……….”, ibu Tio memanggil.
”Ga ma! Tio dah terlambat nich…, ntar ga bisa ikut ulangan matematika
”Kamu nich kebiasaan ga pernah mau sarapan, makannya kalau tidur jangan terlalu malem…..kan mama dah bilangin kamu dari dulu” teriak mama.
”Udahlah sekarang Tio berangkat dulu, ntar keburu telat…”
”Dah mama…………….”

Tio keluar dari rumah dan segera menaiki motor Ninja hijaunya, segera itu pula Tio langsung memacu motor yang sudah menemaninya selama 3 tahun. Motor itu merupakan motor kesayangan Tio hadiah dari Alm. Bapaknya. Setahun yang lalu bapaknya Tio meninggal karena serangan jantung. Tio adalah anak tunggal dari keluarga yang terpandang.

”Gila, kalau kaya gini gue bisa telat nich”
Yang terfikirkan dalam otak Tio hanyalah segera sampai di sekolah.
Motorpun dipacu sekencang kencangnya.

Akhirnya Tio sampe juga di depan gerbang sekolah.
Tetapi alangkah terkejutnya Tio ketika gerbang sekolah sudah terkunci.

”Hey… buka gerbangnya……!!!” teriak Tio pada penjaga.
”Mas sekarang jam berapa??” Jawab pak Budi dengan tenangnya.
”Hey, gue bilang buka ya buka….ntar gue ga bisa ngikutin ulangan matematika loh!!”
”Di sinikan peraturannya dah jelas mas, kalau lewat jam 07:00 maka gerbang ditutup!”

Sejenak Tio berfikir, ni orang bandel banget ya. Tapi misalnya dikasarin ntar malah tambah ga bisa masuk lagi.

”Pak tolong pak, sekali aja pak ijinkan Tio masuk”. Ucap Tio memelas.
”Sampai kapanpun gerbang ini ga akan aku buka, karna ini mandat dari kepala sekolah” Pak Budi menjawab.
”Pak saja janji ga akan terlambat lagi, ini yang terahir pak”
”Gimana yach”
”Boleh ya pak, bapak kan baik…” rayu Tio.
”Ya deh, tapi kalau lain kali terlambat lagi ga akan aku buka lagi” ancam pak Budi.
”Ya pak Tio janji pak, makasih banyak ya pak……..” sanjung Tio.

Akhirnya Tio pun berhasil masuk, segera Tio memarkir motor Ninja nya. Tio pun bergegas masuk dalam kelas.

”Hey balikin donk tas gue!!” teriak seorang siswi.
“Namanya sapa donk cantik, lu kan anak baru jadi boleh donk gue kenalan” Niko merayu.
“Gue bilang balikin……!!” balas tu cewe.

“Loh kok dikelas masih rame, oh jangan – jangan gurunya belum datang lagi”. Tio mengucap.
”kalau kaya gitu, gue beruntung donk”

Tiba – tiba terdengar suara tangisan seorang cewe dari ruang kelas Tio.
”Sapa tuch yang lagi nangis” ucap Tio
Tio bergegas masuk ke kelas dan segera melihat sosok yang nagis.
”Hahaha….., masa Cuma kaya gitu doank nangis sih” teriak Sintha.
”Anak mami kali….” lanjut Niko
”Hahaha……………..!!!” teriak satu kelas ramai.

”Ada apa sih kok ribut banget!!!” teriak Tio memecah ramainya kelas.
”Ini loh ada anak baru, cuma diambil tasnya aja nangis gimana coba” Sintha menjawab.
”Iya tuh masa diajak kenalan juga ga mau, payah” lanjut Niko.

Tio berjalan menuju tempat dimana anak baru itu menangis.
”Huhuhu…..” tangisan anak baru.
Tio duduk disamping anak itu sambil mencoba menenangkan dia.

”Kenapa sich kok nangis” sapa Tio dengan lembutnya.
”Mangnya kamu diapain ma anak – anak” tambah Tio.
”Udahlah Tio, ngapain coba lu ngurusin anak ingusan kaya gitu” sahut Mitha.
”Dah ya jangan nangis, tuh gurunya datang” sapa Tio.

”Pagi anak – anak” salam bu Heny
”Pagi bu……………” sahut anak – anak dengan kompak
”Hari ini jadi ulangan kan” tanya bu Heny.
”Tunggu..kamu kenapa Sil…” tanya bu Heny pada sosok yang sedang mengusap air matanya.
”Ga papa bu, tadi Cuma…..ada yang usil aja bu” jawab Silvia.
”Namanya siapa bu, kenalin donk” potong Niko.

”Anak – anak ini Silvia, dia pindahan dari Bandung” sahut bu Heny.
”Oh jadi namanya Silvia dari bandung, cantik ya bu” Niko menjawab
”Ya iyalah Nik, kan dia anak bandung” jawab Tio.

”Ok sekarang kita mulai pelajarannya, Silvia duduk bangku kosong sebelah Tio”
”Ya bu” jawab Silvia

Ulangan gagal dilaksanakan karena ibu Heny lupa membawa soal yang telah dibuatnya semalam.
Suasana kelas yang ramai pun berubah menjadi tenang. Semua mata tertuju pada pelajaran yang bu guru sampaikan.
Tapi hanya Tio saja yang ga konsen terhadap keterangan dari bu Heny. Mata Tio tertuju pada Silvia yang kebetulan duduk di sampingnya.

”Nih anak bener – bener cantik” kata Tio dalam hati.
Tio masih saja memandang wajah Silvia, seketika lamunan Tio buyar karena ada yang memanggil Tio dengan nada kencang.
”Tio….!!! kamu lagi ngelamunin apa!”
”Ga bu,…emh Cuma….” jawab Tio dengan nada kaget.
”Coba kerjakan soal dipapan tulis”

Seketika itu pula Tio jadi grogi, kenapa tidak selama pelajaran berlangsung Tio bukannya memperhatikan pelajaran yang ibu Heny sampaikan melainkan hanya memandang wajah cantik siswi baru itu.

”Ya bu”, jawab Tio dengan nada lemas.

Perlahan Tio melangkah dengan tak pasti, Tio mulai mengerjakan soal itu tapi tetap saja ga bisa.
”Bu ni soal susah banget bu, Tio ga bisa bu” Tio mengeluh
”Makannya kalau ibu lagi njelasin di depan diperhatikan, jangan melamun terus”
”Siapa coba yang bisa bantu Tio” tambah bu Heny.
”Bu, disinikan ada anak baru jadi gimana kalau Silvia aja yang ngerjain bu. Ya itung – itung pemanasan bu, ya ga temen – temen” teriak Niko

Satu kelas pun setuju dengan pendapat Niko. Akhirnya Silvia disuruh bu Heny untuk mengerjakan soal yang tadi.

Saat Silvia mengerjakan soal tersebut, semuanya terkesima. Gimana ga Silvia bisa ngrjain soal itu dengan cepat dan benar.

”Hebat kamu Sil” puji Tio.
”Aku ga sehebat itu kok, yang penting kalau pelajaran jangan ngelamun aja” jawab Silvia.
”Ya nich, nyindir”
”Dah ya sekarang aku mau kembali ke bangku dulu”

Akhirnya bel tanda sekolah usaipun berbunyi. Semua berteriak karena jam sekolah sudah usai.
Hari yang melelahkan bagi Tio, sejenak Tio ngelamunin wajah siswi baru tersebut.
”Kok gue jadi ngelamunin tu cewe ya” ucap Tio dalam hatinya.

Segera Tio pulang ke rumah dengan motor kesayangannya itu.
Udara jakarta yang panas membuat Tio harus memarkir motornya didepan warung, Tio ingin membeli air mineral untuk melepas lelah. Sambil mengusap peluh didahinya Tio meminum segelas air mineral. Setelah selesai menikmati segelas air Tio pun langsung pulang kerumah.

Tiga hari sudah sejak kedatangan Silvia di sekolah itu, tetapi Tio tetap saja tidak bisa melupakan bayangan dirinya. Entah rasa apa yang kini dirasakan oleh Tio.

”Sil, gimana sekolah disini enak ga?” tanya Tio.
”Gimana ya?” Silvi menjawab singkat.
”Eh, ntar malam kan malam minggu BTW lu ada acara ga?” tanya Tio
”Ga ada mangnya kenapa?” jawab Silvia sambil melirik wajah Tio
”Ehm gimana kalau aku main kerumah lu”
”Ngapain lu main kerumah gue” bentak Silvi seolah menolak.

Tio ga putus semangat karena ditolak cewe, sebenarnya Tio juga stress. Biasanya cewe – cewe yang ngantri ngajakin Tio nonton kek atau juga sekedar jalan – jalan. Baru kali ini gue ditolak ma cewe ucap Tio dalam hati.
Seringnya frequensi mereka bertemu, membuat mereka semakin akrab. Tapi entah mengapa setiap kali silvia diajakin jalan bareng atau main kerumah pasti Silvi selalu menolak dengan alasan apa aja.

Sejak saat itu pula persahabatan mereka menjadi tak seerat yang dulu. Tio yang dulu lebih suka menghabiskan waktu bersama Silvia, sekarang diganti dengan buku. Lama kelamaan sikap Tio yang begitu membuat Silvia bingung. Dia merasa kehilangan sosok teman yang selama ini selalu menemani hari – harinya. Dia juga ga tahu yang sebenarnya terjadi sama Tio.

Hah…. dari pada gue stres bete kaya gini mending gue ngajak jalan Mitha aja, pasti dia mau gue ajakin jalan.
Selamat siang anak – anak jangan lupa senin kita ulangan. Belajar yang giat ya, kalau dapat nilai 100 ibu akan berikan hadiah, salam ibu Heny sebelum bel berbunyi.

Huh…. bener – bener hari yang melelahkan, ucap Tio.
Tiba – tiba Mitha duduk sebelah Tio sambil berkata Tio….lu hari ini kemana?
Ehmm…ga kemana – mana, mang nya kenapa? Jawab Tio.
Kita jalan bareng yuk?
Ok girl lagian aku juga lagi BT. Sekejap mengedipkan mata, dua orang itu sudah sampe di tempat parkir dimana ada motor ninja kesayangan Tio yang akan digunakan untuk jalan – jalan.
Buruan Mith…ucap Tio.
Ok bro…….!! jawab Mitha dengan nada senang karena mau jalan bareng ma Tio yang dah lama diimpikan.
Tangan Mitha memeluk tubuh Tio dengan kencang.
Tiba – tiba Tio merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya.
Perasaannya menjadi tentram serasa ada sesuatu yang telah hilang dalam hidupnya yang kini telah kembali.
Tio teringat masa – masa dulu dimana dia ditemani Ani.
Hidup Tio serasa lengkap, tapi semenjak kepergian Ani Tio pun banyak murung. Ani pergi bersama keluarganya karena pada waktu itu ia harus ikut dinas ayahnya ke Singapura. Dulupun Ani sangat menyayangi Tio, begitu pula sebaliknya. Lamunan masa lalunya tiba – tiba terusik karena Mitha menepuk punggung Tio.
Lu lagi ngapain yo, katanya mau jalan ucap Mitha sambil tetap kedua tangannya memegang tubuh Tio.
Ehm, ga papa kok? Yuk jalan….

Ditarikalah ninja dengan kecepatan pelan tetapi tetap mampu mendahului becak yang kebetulan berada disampingnya. Diajaklah Mitha ketempat dimana dulu Tio mengajak Ani. Namanya Bukit kedamaian, ya namanya mudah tapi tak semudah melupakannya. Ditempat itulah tercipta kedamaian, jauh dari rongrongan suara mesin kendaraan. Yang terdengar hanyalah burung yang sedang bernyanyi seakan menyanyikan lagu kedamaian dan juga suara air terjun yang terasa sejuk sampai kedalam hati.

Kita sampai……..?? teriak Tio.
Wah….., bagus banget tempatnya Yo, kok dari dulu gue ga pernah diajakin main ke sini sih?
Mereka berdua kemudian menghabiskan waktu sampai matahari terbenam, dan yang tersisa hanyalah cahaya ninja kesayangan Tio.

Tiba – tiba Mitha memeluk Tio sambil mengucap lirih ditelinga Tio
Makasih banyak ya, lu dah ngajakin gue ketempat yang indah.
Ehm, ehm….sama – sama mith bales Tio dengan nada tersendat – sendat.
Lu kok jadi grogi gitu sih?
Gapapa kok, yuk kita pulang dah mulai malam nih ntar lu dicariin nyokap.

Sekejap itulah mereka pergi dari Bukit kedamaian.
Ok! Kita dah sampe nih Mith, gue pulang dulu ya. Dah…
Lambaian tangan Mitha menemani Tio pulang.

Semenjak kejadian itu mereka berdua semakin dekat layaknya pranko dan surat. Ya itulah yang terjadi antara mereka berdua. Mereka berdua begitu menikmati hari – hari yang selalu terasa manis semanis sirup buatan ibu Tio yang selalu dirindukan oleh Mitha saat main ke rumah Tio.

Minggu yang panas Mitha sudah duduk di kursi yang terbuat dari ukiran bambu yang terasa sejuk karena tepat diatasnya tertanam pohon beringin yang rindang ditaman depan rumah berwarna putih mengkilap seperti permata. Mitha lagi nungguin Tio untuk main ke tempat favorit.
Dari kejauan terlihat wanita setengah baya sedang membawa segelas minuman berwarna merah muda seperti kaos yang dikenakan Mitha.
Eh, tante…. ga usah repot – repot sapa Mitha dengan muka merah karena yang datang adalah mama Tio.
Gapapa Mith, tante seneng kok Mitha dah mau main ke sini. Lagi nungguin Tio ya? Balas wanita setengah baya yang ternyata mamanya Tio.
Iya tante, dengan wajah tersenyum.

Karena nungguin Tio cukup lama akhirnya Mitha terlibat pembicaraan dengan Nyokapnya.
Tante Irene pun banyak bercerita tentang Tio begitu juga sebaliknya. Sampai akhirnya Tio datang. Lama ya Mith nunggunya, sahut Tio memecah pembicaran.
Iya tuh kasihan Mitha dah nungguin dari tadi.
Ga papa kok Yo. Jawab Mitha.
Yuk jalan Mith, dah mama…….tangan tio sebelah kiri menggandeng tangan kanan Mitha sedangkan tangan kanan melambai lambai ke arah wanita setengah baya yang katanya pinter banget bikin sirup.

Mith, maaf ya bisa tutup matanya pake kain ini ga?
Tapi yo…
Udahlah gapapa kan? Sory ya? Potong Tio sebelum Mitha berkata sembari menutup mata Mitha dengan sehelai kain bertuliskan Liverpool, ya Liverpool itulah team yang selalu jadi andalan Tio setiap kali main PS bareng ma temen – temennya.

Udah Mith, sekarang lu boleh buka mata lu.
Sekejap itu juga Mitha membuka kain penutup matanya yang dari tadi udah bikin gatel matanya.
Dilihatnya dua bangku tertata rapi, satu meja berisi dua piring spageti dan dua buah gelas yang berwarna seperti kaos yang dikenakan Mitha sekarang dan juga lilin kecil yang menjadikan suasana semakin romantis.
HAPPY BIRTHDAY MITHA…………., teriak Tio yang membuat lamunan Mitha menjadi buyar.
Ah….Tio….., makacih ya….
Ni bener – bener ulang tahun terindah dalam hidup ku.
Tak terasa tangan Mitha dipegang oleh Tio sambil bertekuk lutut dihadapan Tio sambil mengucap
Ni semua special banget buat lu…
Mith, lu mau ga jadi pacarku.

Jantung Mitha terhenti sejenak kemudian berubah menjadi debaran yang tak beraturan seperti genderang mau perang kaya lirik lagunya Dewa 19 yang kebetulan adalah band kesayangannya Tio. Kenapa ga? Dulu Tio diajakin jalan susahnya minta ampun, tapi sekarang malah nembak.
Dengan rasa berdebar Mitha menjawab dengan nada tertatih – tatih.
Lu serius mau jadi pacarku! Dari dulu gue juga dah sayang banget ma lu Yo.
Jadi…… lu mau jadi pacarku…..! teriak Tio seakan tak percaya
Ya, gue mau banget jadi pacar lu.
Makan yuk, ntar keburu dingin loh?

Suasana malam yang romantis terasa begitu berharga sampai tak terasa jam tangan Mitha menunjuk pukul 9 malam. Mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk pulang, ditengah jalan mereka berdua bertemu dengan Silvia yang kebetulan lewat jalan yang sama.
Eh..Silvia…, mau kemana Sil…? tanya Mitha
Ehm itu, gue barusan dari rumah nenek. Jawab Silvia dengan nada tersendat karena sempat melihat tangan Mitha digandeng erat oleh Tio. Tiba – tiba Silvia jadi merasa pingin nonjok Mitha sampe terpental 10 meter, entah kenapa dia jadi kepikiran seperti itu.

Eh ya Sil, lu bawa apaan tuh….kok kaya obat. Lu sakit Sil? Tanya Tio karena melihat kantong plastik warna putih bertuliskan salah satu nama obat.
Eh, bu…bukan, bukan….
Ni cuma vitamin, ya vitamin kok! Hehehe ya dah ya gue pulang dulu lagian ni dah malem.
Dah semuanya, tangan Silvi melambai sambil berlari menghapus air mata yang sempat terteteskan entah karena apa.

Sebenarnya Tio menyukai Silvi semenjak pandangan pertama, tapi mungkin karena sifat Silvi yang selama ini tertutup sama Tio menjadikan perasaan itu hilang bagaikan ditelan bumi.

Minggu pagi ketika Tio sedang jalan – jalan pagi, tak sengaja Tio melihat Silvi keluar dari puskesmas yang terlihat banyak antrian orang memenuhi tempat itu karena emang puskesmas itu satu –satunya yang ada di tempat itu. Karena rasa penasaran Tio berhenti sejenak menunggu Silvi pergi dari tempat itu dan kemudian masuk ketempat yang tadi Silvi keluar

Setelah lama mengantri, akhirnya tiba giliran Tio.
Ya, selanjutnya no antrian 88 silahkan masuk. Suara seorang wanita dari dalam ruangan yang hanya terdapat lubang yang hanya bisa melihat muka saja. Segera dilihatnya no antriannya, kemudian Tio berjalan ke tempat seorang wanita yang memanggil.
Silahkan masuk mas, sapa seorang wanita yang ternyata seorang suster.
Makasih mba? Tio menjawab dengan singkat.

Ehm, kalau boleh tau mas ini sakit apa ya…tanya dokter pada Tio.
Maaf dok, saya kesini bukan untuk berobat.
Trus untuk apa? Dokter bingung, karena emang yang datang kesitu pasti ingin berobat dari penyakit yang diderita supaya cepat sembuh.

Saya kesini cuma mau nanya doank dok, barusan ada pasien yang bernama Silvia. Dia sakit apa ya dok tanya Tio penasaran seakan takut teerjadi apa – apa dengan Silvia.
Dokter balas bertanya, mas ini siapa ya?

Tio menceritakan semuanya tentang persahabatan mereka, akhirnya dokter angkat bicara menceritakan penyakit yang diderita oleh Silvia.

Betapa terkejutntya Tio mendengar tentang penyakit yang diderita Silvia.
Dokter pasti salah bicara kan….!!! seoalah Tio ga percaya dengan ucapan doker.
Ya….Silvia menderita penyakit itu.

Tio kemudian keluar dari ruangan yang berisi tempat tidur berselimut putih dan juga ranka manusia serta beberapa alat medis yang digunakan dokter untuk memeriksa pasiennya.

Dengan banyangan tentang penyakit Silvia Tio pun berjalan menyusuri jalan menuju rumahnya. Seakan masih takpercaya dengan ucapan seorang yang berseragam putih dengan kacamata tebal yang baru saja dia temui.

Sesampainya dirumah, Tio terus berfikir tentang Silvia. Karena rasa penasaran itu Tio berusaha untuk mencari tau yang sebenarnya tentang Silvia.

Siang itu ketika bel berbunyi menandai waktu ulangan Matematika selesai, dan seketika itu juga semuanya ribut karena mereka belum seleasai mengerjakan soal kecuali seorang cewe yang selama ini selalu dicemaskan Tio karena penyakit yang dideritanya.

Cayang…kita jalan – jalan yuk, Mitha memanggil Tio dengan nada manja
Kan tadi abis stress karena abis ulangan Matematika jadi kita mending kita senang – senang aja?
Sory ya Mith, hari ini gue kayaknya ga bisa soalnya….
Soalnya apa…..potong Mitha
Ehm gue harus nganterin nyokap arisan, ya arisan Mith (dengan nada sedikit kaget). Kan sekarang nyokap gue lagi arisan.

Sebenarnya Tio berusaha menghindari jalan bareng Mitha karena dia bermaksud mencari tau tentang seseorang yang selama ini membuat hatinya cemas.

Akhirnya Mitha pun pulang kerumah tanpa seseorang yang selama ini selalu menemaninya dengan setia karena mau nganterin nyokapnya arisan. Sementara itu Tio terus mengikuti Silvia yang naik angkot berwarna merah seperti warna kostum team kesayangannya saat bermain PS.

Tiba – tiba angkot tadi berhenti di depan pertigaan dan yang keluar ternyata adalah anak sekolah yang dari tadi diikuti oleh Tio. Kemudian anak itu berjalan menyusuri ruas jalan yang dipadati oleh orang – orang yang sibuk menawarkan barang – barangnya.
Neng, sepatunya neng….mumpung lagi diskon
Ga bang, makasih jawab Silvia.

Setelah cukup lama berjalan akhirnya Silvia sampai juga di depan rumah dimana terdapat sebuah taman yang dipenuhi dengan warna – warni dari bunga yang tertata rapi membuat taman itu terasa cantik secantik wajah Silvia menurut Tio.

Oh jadi disini rumahnya, OK kapan – kapan gue pasti main ke rumah lu Sil?
Kemudian Tio meninggalkan rumah yang dipenuhi bunga tadi.

Seperti biasa Mitha main ke tempat Tio mungkin karena rindu dengan sirup bikinan tante Irene tapi lebih karena ingin ketemu dengan anaknya tante Irene.
Sore tante…
Eh, Mitha sini masuk
Lagi bersihin bunga ya tante, kelihatannya sibuk banget.
Iya nih, kebetulan pekerjaan dirumah dah selesai. Dahi tante Irene dikerutkan ke atas karena Mitha datang sendiri tanpa ditemani oleh Tio anak kesayangannya karena mang itu adalah anak semata wayangnya.
Loh kok ga bareng Tio? Tanya tante Irene dengan nada penasaran seakan takut terjadi sesuatu pada anak kesayangannya.
Ehm, bukannya Tio dah pulang? Begitu jawaban yang dilontarkan dari bibir Mitha yang terlihat mengkilap karena memakai lipstik yang menempel.

Kemudian Mitha menceritakan yang terjadi sebelum mereka pulang sekolah. Tante Irene terkejut dengan cerita Mitha karena selam ini kalau Tio mau pulang telat pasti selalu ngabarin nyokapnya.
Tapi yang lebih terkejut lagi Mitha, karena tadi siang Tio nolak di ajak jalan dengan alasan mau nganterin nyokapnya arisan. Karena ternyata tante Irene hari ini tidak ada arisan karena hari ini hari senin, sedangkan arisan yang biasanya rame oleh ibu – ibu bukan cuma sebagai arisan saja tetapi juga sebagai ajang memamerkan kekayaan itu dilakukan pada hari minggu.

Tiba – tiba terdengar suara motor dengan nada keras, kemudian berhenti didepan dua orang kaum hawa yang sedang duduk di bangku depan rumah.

Itu Tio tante,
Kemudian tante Irene langsung masuk ke dalam rumah karena pasti akan terjadi perdebatan antara Mitha dan juga Tio.
Begitu Tio turun dari ninja nya sesegera juga Mitha meninggalkan rumah yang selalu dirindukannya karena segelas sirup buatan tante Irene.

Mith, lu mau kemana…!
Gue mau pulang, sambil berjalan menjauhi Tio dengan nada kesal karena Tio telah membohongi dirinya.
Saat itu Tio ga sadar apa yang terjadi dengan Mitha karena dia pergi begitu saja.
Setelah ketemu dengan mamanya barulah Tio sadar apa yang telah dilakukannya.

Tio kemudian bergegas pergi dan bermaksud mengejar Mitha. Tapi dilihatnya sudah tidak ada. Kemudian Tio langsung pergi kerumah Mitha. Tapi cuaca sore itu mendung semendung perasaan Mitha saat ini.

Sesampainya dirumah Mitha Tio langsung memencet tombol kecil yang berwarna merah. Setelah memencet tombol merah tersebut seorang cewe yang selama ini selalu menemaninya dengan setia tepat berada didepannya.
Lu ngapain kesini, bentak Mitha.
Gue mau minta maaf ma lu.
Tanpa menghiraukan omongan Tio Mitha pun langsung membanting daun pintu tepat di depan muka Tio.
Mith…., dengerin gue dulu Mith. Teriakan Tio terdengar kecil karena diluar hujan sudah mulai mengguyur seisi kota itu.
Mith, gue ga pulang sebelum lu ndengerin penjelasan gue!!!
Mitha seolah ga peduli apa yang akan dilakukan oleh Tio. Sementara Tio masih tetap saja menunggu Mitha keluar dari rumahnya dan berharap mau ndengerin penjelasannya kemudian memaafkannya. Tio kemudian merasa badannya menggigil kedinginan karena dia memilih duduk diatas motor kesayangannya karena dari situlah Tio bisa memandangi kamar Mitha yang letaknya di lantai 2. Sementara hujan terus mengguyur dengan derasnya seakan menjadi satu – satunya teman Tio saat itu setelah ninjanya. Teriakan Tio dari luar masih tetap saja terdengar di telinga Mitha yang seolah tetap saja tak terusik.

Tiba –tiba suara yang dari tadi tidak sedikitpun mengusik kegiatan Mitha sudah tak terdengar lagi.
Mungkin karena tertutup oleh suara petir yang mengamuk, karena diluar hujan masih tetap saja mengguyur.
Karena merasa penasaran, atau mungkin karena lebih khawatir dengan keadaan Tio akhirnya Mitha pun membuka korden kamarnya yang berwarna biru muda dengan perlahan – lahan.
Tapi Mitha tidak mendapati sosok Tio, karena Mitha hanya melihat ninja saja tanpa pemiliknya. Begitu melihat keadaan itu Mitha langsung berlari dari kamarnya yang meja belajarnya dipenuhi barang – barang pemberian dari kekasihnya, mulai dari boneka pink yang dipadu dengan warna putih hadiah pada saat Valentine dan juga foto – foto mereka berdua pada saat di Bukit kedamaian dan juga masih banyak lagi yang lainnya yang tertata rapi menghiasi kamarnya. Sebenarnya dari mulai turun hujan Mitha sudah khawatir dengan keadaan Tio karena Tio berada di luar rumah tanpa ditemani alat peneduh yang terdapat ruji –ruji dan juga bahan parasit yang dapat melindunginya dari hujan. Mungkin kekhawatiran itu adalah karena Mitha sangat sayang kepada Tio.

Tapi betapa terkejutnya Mitha ketika dia sudah berada di depan ninja yang selama ini selalu membawa mereka berdua dalam kebahagiaan. Jantung Mitha tiba – tiba berhenti sejenak karena pasti sesuatu telah terjadi pada Tio.

Tio………., teriak Mitha dengan sekuat tenaga yang ia miliki.
Tapi tetap saja terdengar lirih karena hujan belum juga reda. Perlahan kedua lutut Mitha ditekuk kemudian menjatuhkannya ke rerumputan di depan rumahnya tepat berada disamping ninja. Perlahan air mata Mitha mengalir jatuh dari kedua bola matanya. Hingga beberapa saat tiba – tiba pumggung Mitha dipegang oleh seseorang yang tidak dikenalnya karena Mitha masih menangis karena takut terjadi sesuatu pada Tio.
Mith, maafin gue ya…..suaranya terdengar lirih membisik di daun telinga Mitha.
Gue tahu gue salah…….

Mendengar suara itu Mitha langsung membalikan badannya, ternyata seseorang yang dari tadi dikhawatirkannya sekarang sudah berada di depan matanya.
Lu jahat Yo, lu jahat…..kata Mitha sambil air matanya mengalir.
Tio langsung memeluk tubuh Mitha dengan erat sembari berkata maafin gue Mith, gue ga bermaksud nyakitin perasaan lu.

Gue ga mau kehilangan lu, karena gue mang sayang banget ma lu balas Mitha.
Lu mau maafin gue kan Mith?
Tapi lu janji ga akan buat gue kecewa untuk yang kedua kalinya.
Ya Mith, gue janji.

Perlahan mereka berdua mulai berdiri dan sekarang tubuh mereka berdua saling berhadapan. Perlahan Tio mulai mengecup bibir Mitha yang terasa seksi karena guyuran air hujan. Entah berapa detik mereka berdua berciuman sampai akhirnya seorang memanggil.
Mitha……!!! lu dimana……
Suara itu terdengar dari rumah Mitha. Karena mendengar suara yang memanggil mereka pun akhirnya berhenti. Mitha pun tersadar dan mengenali seseorang yang memanggil namanya.
Mitha kemudian berkata kepada Tio, lu lebih baik sekarang pulang karena besok ada ulangan matematika. Lagian gue dah dipanggil ma nyokap.
Mendengar Mitha ngomong kaya gitu, segeralah Tio menaiki ninja dan kemudin meninggalkan Mitha sambil berkata Makacih ya Mith, kita ketemu besok pagi.

Mitha pun bergegas masuk ke rumah dengan basah kuyup serta mulai merasa hawa dingin menggerogoti tubuh mungilnya.

Pagi itu cuaca kota sangat cerah. Secerah hati Tio sekarang. Hari ini kelas 3 IPA merasa berdebar karena akan ada ulangan Matematika. Ulangan ini jadi terasa unik dan mengaskkan karena seperti janji bu Heny kemarin bawha siapa yang mendapat nilai 100 akan mendapatkan hadiah. Suasana kelas 3 IPA yang dari dulu ramai karena emang kelas ini memang tertekenal dengan anak – anak yang bandel. Tetapi walaupun bandel anak – anak 3 IPA ini juga setiap tahunnya menempati peringkat 1 paralel sesekolahan.
Sekarang suasana itu menjadi tenang layaknya suasana makam yang terasa hening tanpa seorangpun.

Tio kemudian masuk ke kelas dan duduk dibangkunya, kemudian ia menyadari ada sesuatu yang kurang pada kelasnya. Semua bangku sudah terisi hanya saja 2 bangku depan dan juga sampingnya. Bangku depan Tio yang masih kosong. Orang yang duduk di bangku itu adalah seseorang yang sangat mencintai Tio, yang katanya ga mau kehilangan Tio.
Sedangkan bangku disampingnya adalah seseorang yang membantunya mengerjakan soal Matematika ketika dia ga bisa ngerjain karena ngelamunin dia.

Perlahan – lahan mulai ada rasa yang mengganggu perasaan Tio. Karena kedua orang itulah yang selama ini menggangu pikiran Tio. Ulangan pun segera dimulai. Perlahan bu Heny mulai menggoreskan spidol pada papan putih yang terletak tepat di depan anak – anak IPA. Anak – anak IPA tidak bisa melihat soal yang bu Heny tuliskan karena hanya bisa melihat bentuk tubuh bu Heny yang terasa cukup untuk menutupi sepuluh soal yang telah ia tuliskan di papan putih yang sekarang sudah ternoda oleh goresan warna hitam. Ini sengaja dilakukannya untuk menghindari anak – anak menyontek.

Setelah bu Heny duduk di bangku, barulah semua soal terpampang secara jelas di depan. Anak – anak mulai sibuk mengerjakannya satu – satu secara teliti supaya mendapat nilai 100. Suasana kelas hening terlihat semua kepala siswa – siawi menunduk dengan tangan mulai menggoreskan pena pada secarik kertas yang sudah dilengkapi nama, no, dan juga kelas pada pojok kanan atas.

Semuanya mengerjakannya dengan serius, begitu juga dengan Tio yang dari tadi memandangi soal yang nampaknya mudah. Tapi pikirannya sekarang tak bisa berkonsentrasi secara maksimal pada soal itu karena terpikir 2 orang yang selalu berkecimak dipikirannya karena mereka tak juga datang padahal jam dinding sudah menunjuk pukul 09:55.
Lima menit lagi waktu selesai, kata bu Heny memecah konsentrasi anak – anak seketika itu juga suasana menjadi gaduh karena kebanyakan belum menyelesaikan soal dan mulai sibuk membuka – buka contekan yang sudah disiapkannya.
Terkecuali orang yang bangku depan dan sampingnya kosong. Dia tetap tenang dengan soalnya karena ingin segera menyelesaikannya dan kemudian mencari tau tentang mereka berdua.

Akhirnya lima menit sudah berlalu, perlahan bu Heny mulai mengambil hasil pekerjaan mereka mulai dari bangku depan kemudian menyusul ke bangku berikutnya sampai selesai. Ketika bu Heny keluar ruangan dengan membawa segepok kertas yang dipegang erat dan seperti dipeluknya, Tio pun langsung meninggalkan kelas yang masih terasa berisik. Tio.. lu mau kemana? Tanya Niko karena emang jam sekolah belum selesai.
Gue mau pulang?
Eh, ntar kan ada pelajaran biologi biasanya lu kan seneng banget ma tu pelajaran, balas Niko.
Persetan dengan tu pelajaran. Gue ada urusan yang lebih penting dari tu pelajaran. Akhirnya Tio pun bergegas pergi dari kelas.

Setelah berhasil keluar sekolah dengan susah payah karena harus meminta ijin kepada kepala sekolah kini ia mulai bingung kemana ia harus pergi. Tio berjalan perlahan menuju ke suatu tempat mengikuti suara hatinya. Sekarang Tio sudah sampe didepan rumah yang terlihat sepi, hanya ada seorang laki – laki yang terlihat sedang membersihkan halaman rumah yang nampak cukup luas untuk sekedar bermain.

Perlahan Tio menghampiri laki – laki yang sedang membersihkan taman yang telah dipenuhi daun – daun yang kelihatannya sudah menguning.
Pak, Mitha nya ada?
Eh mas Tio, mba Mitha ada tapi sekarang lagi sakit. Loh kok mas Tio ga berangkat sekolah? Tanya seorang laki – laki yang ternyata seorang tukang kebun dengan rasa penasaran.
Gue langsung masuk aja ya? Jawab Tio sambil berlari menuju ke arah pintu. Tio tak menghiraukan tukang kebun yang terus – terus memanggilnya.

Kini tinggal lima langkah lagi menuju kamar Mitha yang kebetulan tidak ditutup dan terlihat jelas seorang cewe sedang terbaring lemah diatas kasur dengan sprai bermotif garis – garis yang terlihat memenuhi tubuh tu cewe dan hanya menyisakan bagian dari leher sampai kepala saja.
Terdengar suara daun pintu yang berbunyi tak sekeras bunyi bel sekolah yang selalu dirindukan setiap siswa.

Siapa sih, ganggu saja gue kan lagi sakit. Jawab Mitha dengan nada sebal karena seseorang telah mengganggu istirahatnya dengan tidak melihat siapa yang datang.
Gue Mith, ni Tio…dengan nada pelan karena takut mengganggunya lagi.
Sory ya Mith, kalau gue dah ganggu istirahat lu?
Mendengar suara itu Mitha langsung membalikan badannya ke arah Tio.
Eh Tio..Mitha angkat bicara sambil disertai suara batuk yang tersendat – sendat.

Perlahan Tio mulai mendekat ke arah Mitha. Sekarang Tio sudah berada tepat di depan Mitha, kemudian duduk di samping Mitha yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Entah kenapa air mata Tio perlahan mengalir dari kedua bola matanya, Tio merasa bersalah atas apa yang telah menimpa Mitha sekarang. Tio kini bener – bener menyadari betapa bodohnya dia setelah sikap yang telah dilakukannya kemarin.

Mith, maafin gue ya? Gara – gara gue lu jadi sakit.
Suara Tio terdengar lirih ditelinga Mitha.
Sebelum Mitha membalas kata – kata Tio, tiba –tiba nyokapnya Mitha datang sembari berkata dengan nada sediki kesal
Eh…ngapain lu datang kesini. Lu mau sakitin anak tante lagi !!!
Suara tante Imel terdengar keras sekeras bel sekolah yang menandai jam pelajaran telah selesai.
Sesegera itu tante Imel langsung mengusir Tio karena dia tidak mau sesuatu terjadi lagi sama anaknya itu.

Sekarang mending lu keluar dari sini……!!!
Ma, kok kaya gitu sih. Jangan Yo lu harus tetap disini.
Keluar tante bilang atau tante panggilin satpam!!

Karena merasa bersalah, akhirnya Tiopun segera meninggalkan tempat itu. Sebelum keluar dari kamar Mitha, Tio menoleh kebelakang sambil berkata kepada Mitha
Mith, jaga diri lu baik – baik ya? Gue sayang banget ma lu….

Kata – kata Tio membuat Mitha meneteskan air matanya karena dia merasa kehilangan orang yang selama ini membahagiakan dia. Karena merasa marah atas sikap mama terhadap Tio, Mitha pun segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sehingga yang terlihat sekarang hanyalah bentuk tubuh Mitha saja.

Mitha sayang, minum obatnya dulu ya biar cepet sembuh. Suara yang terdengar seolah tak mengusik kepedihan Mitha dibalik selimutnya. Tapi Mitha ga bisa terus-terusan begini, dia harus sembuh untuk bisa ketemu dengan Tio lagi.

Sementara itu Tio keluar dengan penyesalan yang mendalam karena telah membuat Mitha jadi sakit. Jalanan yang disusuri Tio jadi terasa jauh, seakan tiada akhir. Sedangkan hatinya belum bisa tenang karena memikirkan 2 orang cewe yang mang telah memenuhi isi hatinya.

Sejenak Tio berfikir bagaimana keadaan Silvi, tapi dalam hati Tio seolah tidak tega memikirkannya karena takut Mitha tersakiti lagi. Dalam hatinya terus berkecamuk perasaan yang bener2 membuat Tio bingung setengah mati.

Seminggu sudah suasana kelas berbeda, karena 2 orang yang ada di hati Tio ga pernah ada. Entah kenapa mereka belum juga kembali.

Dalam kondisi yang terasa berat bagi Tio, Tio berusaha tetap sabar dan tegar.
Kemana kakinya akan dilangkahkan. Ke tempat Silvia, ataukah ke tempat Mitha.
Tio merasa bersalah atas semuanya. Di satu sisi Mitha yang kini menjadi cewe nya tulus dan ikhlas mencitainya tanpa ada keraguan. Tapi di sisi lain Tio juga masih penasaran dengan sikap Silvia selama ini yang terkadang acuh, dia pengin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Silvia yang dulu pernah mengisi ruang hatinya.

Ting, Tong…..
Ting Tong…..

Suara bel berbunyi,
Ah….Siapa sih itu..? Sekali aja donk jangan gitu….! teriak Tio kesel.
Ga boleh gitu donk yo…, jawab mamanya.
Bentar ya….
Suara langkah kaki mulai beranjak mendekati pintu.
Setelah dibuka, terdengar suara seorang cewe yang rasanya Tio pernah kenal.

Halo tante….
Tante gmn kabar, tante sehat kan?
Tante masih inget kan ma aku?

Rentetan pertanyaan keluar dari mulut seorang cewe, seperti rentetan peluru yang tengah menyerbu segerombolan perampok yang telah kabur dengan membawa uang berjuta.

Sebentar, sambil mengerutkan dahi kemudian mulai melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tante Irene mulai angkat bicara dengan nada sedikit kaget seperti sedang bertemu dengan hantu.

Ini….
Ini bener A….
An….
Bener tante, ini Ani….Potong cewe yang kini tepat berada didepan tante Irene.
Ya, ampun…..Ani.
Udah lama banget, mang udah balik ke jakarta lagi.

Masuk….
Tio….(dengan nada sedikit kencang)
Coba liat siapa yang datang

“bentar ma…, Tio lagi pusing”

Coba liat dulu donk, siapa yang datang.
Si….(mulut Tio tiba – tiba diam seolah ada yang menyumbatnya dengan kain sehingga memenuhi mulutnya). Karena melihat sosok yang dulu pernah mengisi hari2 Tio.

A…ani….
Ya,…ini aku Ani.

Tio seolah tidak percaya dengan apa yang kini tengah berada didepannya. Telah lama sekali Tio tidak berjumpa dengan Ani.

Ani, sosok gadis yang ngertiin Tio. Jauh sebelum Tio kenal dengan Mitha dan Silvia. Sampai suatu saat Ani harus pindah ke luar negri karena ayah nya mendapat tugas ke luar negeri.

Tio langsung memeluk erat tubuh Ani, seolah meluapkan rindu yang dari dulu bersarang dihatinya. Ani pun hanya terdiam sambil sekali tersenyum senang. Karena itu menandakan bahwa Tio masih sayang dengan Ani.

Akhirnya mereka ber – 2 melanjutkan pembicaraan dengan ditemani segelas sirup orange yang kini telah berada tepat diatas meja dengan balutan kain berwarna putih.

Tak terasa waktu menjelang malam, sudah lama Tio dan Ani ngobrol kesana kemari tentang cerita masalalu.

“wah…dah malem nich…. Ani mengucap dengan malihat jam yang melekat dikulit putihnya yang menunjuk angka 10.

Segera Ani bergegas menemui tante Irene untuk berpamitan karena waktu sudah malam.

Tio…anterin tuh Ani, kasihann dah malam….
Iya ma…., tanpa ma2 suruh pun Tio akan nganterin Ani kok. Timpal Tio dengan muka tersenyum sambil melihat wajah Ani yang terasa cantik dengan gaun berwarna merah muda.
Tak lama terdengar suara motor meraung2, menandakan Tio sudah siap mengantarkan Ani pulang.
‘Ayo naik……, teriak Tio mengagetkan lamunan Ani.
‘Eh…., iya…

Segera Ani naik motor Ninja. Setelah Ani naik, Sejenak Ani melamun tentang apa yang dulu pernah dia alami bersama Tio kembali teringat. Tentang kenangan masa dulu, karena motor ninja nya itulah yang jadi teman setia serta saksi bisu kisah cinta nya bersama Tio.

Tiba2 setelah melaju berapa lama, sein motor kiri menyala menandakan motor akan berhenti.

An… gumam Tio memanggil dengan nada pelan.
Iya yo…., maaf….
Ngelamunin apa sih….timpal Tio.

Disuruhnya ani untuk berpegangan ke tubbuh Tio karena takut Ani kenapa napa.
Segera itu pula Ani memeluk Tio dari belakang.

Rasa yang dulu telah hilang dalam jiwa Tio, sekarang mulai tumbuh kembali. Ani telah datang, Tio merasa tenang dan nyaman dengan pelukan mesra Ani.

Masih tersimpan rasa sayang didalam hati Tio untuk Ani.

BERSAMBUNG……


Posted in Uncategorized

Tags:

1 Tanggapan »

  1. terlalu panjang…
    tyo jg tipe cwo yg mdah jtuh CINTA…alias PLAYBOY…

    Comment oleh twoshe — November 12, 2009 @ 1:12 AM


Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik

    Blog Stats

    • 59 hits

    Calender

    November 2009
    S S R K J S M
    « Okt    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

    Pencarian

    Terjemahan